Jumat, 03 Mei 2019

Telkomsel Serahkan Bantuan 24 Ton Takjil Kurma Ke 20 Masjid

Buletinnusa
Jakarta, Malukupost.com - Menyambut bulan Ramadan 1440 Hijriyah, Telkomsel berbagi takjil Ramadan berupa 24 ton kurma yang diserahkan kepada 20 masjid di berbagai wilayah yang mewakili daerah dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Dalam siaran pers yang diterima media ini, Rabu (1/5) Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan, bantuan kurma tersebut merupakan salah satu cara Telkomsel untuk menyebarkan kebahagiaan untuk masyarakat umum, khususnya umat muslim, untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan. “Dua puluh masjid yang memperoleh bantuan kurma adalah Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Masjid Al Mashun Medan, Masjid Raya Padang, Masjid Istiqlal Jakarta, Masjid At Taqwa Cirebon, Masjid Agung Jawa Tengah Semarang, Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Masjid Agung Bangkalan Madura, Masjid At Taqwa Mataram, Masjid At Taqwa Balikpapan, Masjid Al Markas Al Islami Makassar, Masjid Al Munawar Ternate, Masjid Agung Nurul Yaqin Waisai Raja Ampat, Masjid Agung Babussalam Timika, Masjid Tarqiah Taqwa Jakarta, Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Masjid Raya di Banten, Masjid Raya di Jabar & Masjid Raya di Yogyakarta,” ujarnya
Direktur Keuangan Telkomsel Heri Supriadi, saat memaparkan Telkomsel menyerahkan bantuan 24 ton kurma kepada 20 masjid di berbagai wilayah, di Jakarta (30/4)
Jakarta, Malukupost.com - Menyambut bulan Ramadan 1440 Hijriyah, Telkomsel berbagi takjil Ramadan berupa 24 ton kurma yang diserahkan kepada 20 masjid di berbagai wilayah yang mewakili daerah dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia.

Dalam siaran pers yang diterima media ini, Rabu (1/5) Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan, bantuan kurma tersebut merupakan salah satu cara Telkomsel untuk menyebarkan kebahagiaan untuk masyarakat umum, khususnya umat muslim, untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan.

“Dua puluh masjid yang memperoleh bantuan kurma adalah Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Masjid Al Mashun Medan, Masjid Raya Padang, Masjid Istiqlal Jakarta, Masjid At Taqwa Cirebon, Masjid Agung Jawa Tengah Semarang, Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Masjid Agung Bangkalan Madura, Masjid At Taqwa Mataram, Masjid At Taqwa Balikpapan, Masjid Al Markas Al Islami Makassar, Masjid Al Munawar Ternate, Masjid Agung Nurul Yaqin Waisai Raja Ampat, Masjid Agung Babussalam Timika, Masjid Tarqiah Taqwa Jakarta, Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Masjid Raya di Banten, Masjid Raya di Jabar & Masjid Raya di Yogyakarta,” ujarnya

Ririek katakan sesuai dengan semangat Ramadhan dan Idul Fitri Telkomsel di tahun 2019 yaitu ‘Sebarkan Kebahagiaan’, pihaknya berharap bantuan kurma tersebut dapat memberikan manfaat yang mendatangkan kebahagiaan bagi masyarakat luas di berbagai wilayah di Indonesia.

“Terutama bagi masyarakat yang dalam waktu dekat akan menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.” ungkapnya

Dijelaskan Ririek, melalui bantuan kurma tersebut Telkomsel juga bermaksud untuk menjalin dan mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat. Pada bulan Ramadhan, masjid menjadi tempat yang paling sering dikunjungi masyarakat untuk beribadah, termasuk untuk berbuka puasa.

“Masjid yang dipilih Telkomsel untuk distribusi bantuan kurma merupakan masjid yang menjadi pusat kegiatan ibadah di wilayah tersebut,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, sejak tahun 2013, Telkomsel selalu menyerahkan bantuan kurma dengan jumlah yang disesuaikan dengan usia Telkomsel. Pada tahun ini, jumlah bantuan 24 ton kurma disesuaikan dengan 24 tahun Telkomsel yang jatuh pada bulan Mei 2019 ini. (MP-8)

Matahari Luluh Di Tanjung Martinez Da Alfonzo

Buletinnusa
Pria muda Alifuru bernama Serua da Alfonso didera luka perpisahan. Dia harus berpisah selama-lamanya dengan Kapal Tartaruga. Kapal akan berlayar dari Teluk Ambon ke Ternate, Malaka, Goa, lalu kembali ke Lisabon. Rasa cintanya yang besar kepada kapal itu membuat perpisahan begitu perih.

Cerita Pendek Rudi Fofid

Ambon, 1534-1546

Pria muda Alifuru bernama Serua da Alfonso didera luka perpisahan.  Dia harus berpisah  selama-lamanya dengan Kapal Tartaruga.  Kapal akan berlayar dari Teluk Ambon ke Ternate, Malaka, Goa, lalu kembali ke Lisabon.  Rasa cintanya yang besar kepada kapal itu membuat perpisahan begitu  perih. 

Satu tahun menjadi pembantu koki kapal,  cukup membuat Serua menyukai pelayaran-pelayaran membelah gelombang.  Apalagi, seluruh awak bersikap baik.  Mereka suka menu tradisi yang dia racik.  Serua bangga bisa tuang papeda dan mengajari orang-orang Portugis makan.

“Timba kuah ikan lebih dulu. Setelah itu, ambil papeda taruh di  piring. Makan papeda itu, tidak perlu pakai sendok.  Cukup isap saja, lalu telan,” kata Serua sambil memberi  contoh. 

Para pelaut juga doyan makan kohu-kohu manta.  Jika mereka tangkap ikan tatihu, Serua pasti meracik kohu-kohu manta.  Dia selalu iris bagian dada dan perut tatihu menjadi tipis dan kecil, sehingga gampang menyerap air  lemon cina.  Daun-daun kemangi yang harum dan cili padi adalah sensasi di meja makan.

Di atas Kapal Tartaruga, semua pelaut menjadi guru Bahasa Portugis bagi Serua.  Sebaliknya, Serua merasa berharga menjadi guru Bahasa Uliase kepada orang-orang Portugis. Mereka saling bertukar kata-kata, dan mencoba menerapkan dalam percakapan hari-hari.

Pelayaran yang intim  dari pulau ke pulau, di luar dugaan, berakhir secara lebih cepat.   Kapal mesti berlayar dari Ambon ke Kisar dan terus ke Dili, tetapi batal.  Di perairan Pulau Lucipara, para awak terpaksa putar haluan balik ke Ambon.  Kapten Martinez da Alfonso diterjang demam.  Badannya sangat panas dan gementar. Para awak menduga, ada bibit Malaria bersarang di tubuhnya. 

“Santa Maria! Kalau hidup saya berakhir di sini, tolong jangan lempar mayat saya ke laut.  Saya ingin beristirahat di Amboino.  Kalau semua orang harus pergi berlayar meninggalkan Malucco, pergi saja tetapi anak saya Serua da Alfonso harus temani saya di Amboino,” ujar Martinez dengan suara gementar.

Menjelang senja, Martinez bagai orang gila. Suhu badannya sangat tinggi. Dia terus berteriak dengan suara keras.  Sekali-kali dia terdiam, lalu mengigau dalam tidur yang tak nyenyak.   Kalau terbangun, dia ingin keluar dari kamar dan membuat gelagat buang badan ke dalam ombak.

“Serua! Anakku, Serua!” Martinez berteriak seraya tangannya mencengkram lengan Serua kuat-kuat.

“Beta di sini, Pai! Beta tetap ada dengan Pai,” balas Serua sambil membetulkan kain kompres  di dahi Martinez.

Mendengar Martinez berteriak-teriak, beberapa awak yang lain datang menjenguk.  Ada Bara Pareira, Joao Gomies, Jose Barends, Luiz da Costa, dan Rodriges Sousa. Mereka nampak cemas di sisi ranjang. Martinez membuka mata lebar-lebar,  melihat wajah anak-anak buahnya satu-satu. Tangannya mencari sesuatu di bawah bantal.  Serua membantu.  Sebuah rosario dari batu jade.

“Serua!” Kali ini suara Martinez sangat lemah.

“Serua, Santa Maria!” Martinez mengalungkan Rosario itu ke leher Serua.  Setelah itu dia mencengkram lengan Serua keras-keras sambil meringis menahan sakit. 

“Pai e.  Pai! Pai!” Serua menjerit pilu manakala cengkraman tangan Martinez  perlahan-lahan melemah lalu terlepas. 

Berends mengatur posisi lengan Martinez menyilang di dada.  Dia betulkan kain agar menutup seluruh tubuh Martinez, yang sedari tadi mengamuk dalam keadaan bugil, saking panasnya.  Kini tubuh itu perlahan-lahan jadi lemas, dingin, lalu kaku.

“Demi nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, Amin.  Moga-moga jiwa orang beriman, sahabat dan saudara kami, Martinez da Alfonzo  beristirahat dalam ketentraman, oleh karena kerahiman Tuhan,” ucap Barends.

“Amin,” balas semua pelaut yang berdiri di sisi jenazah Martinez.

Meskipun Martinez da Alfonso hanyalah ayah angkat, tetapi Serua mengalami perasaan dukacita setara kehilangan ayah kandung.  Dia duduk di sisi jenazah, membelai dahi  pelaut ulung itu.

Serua pantas berkabung.  Dukanya selebar Laut Banda.  Lelaki yang kini terbujur kaku, telah  memberi nama da Alfonso  padanya sehingga dia  boleh menggunakan nama Portugis, Serua da Alfonso. 

Pikiran Serua berlayar ke mana-mana, pada hari-hari pertama bertemu Martinez, sampai detik-detik terakhir saat tali nafas pun putus.  Saban kali mengingat satu kebaikan Martinez, air mata Serua tumpah.
 
Martinez mengangkat Serua sebagai anak, bukan lantaran kasihan kepada remaja yang hanya menggunakan cidaku kecil menutup kemaluan. Bagi sang kapten, Serua itu pahlawan.  Serua menyelamatkan nyawanya yang terancam di Hutan Hunuth, tidak jauh dari Hukunalo.

Saat itu, Martinez dan beberapa orang Portugis membawa senapan ke hutan di sekitar Hunuth.  Begitulah kebiasaan kalau tiba di Ambon.  Berburu menjadi ajang penghilang kejenuhan berlayar di atas laut.

Bunyi letusan senapan mengejutkan orang-orang Alifuru yang tinggal di Hunuth.  Dua orang pria muncul dengan tombak dan panah, berjalan ke arah letusan senapan.  Serua ikut, berjalan di belakang kedua paman Alifuru.  Dia membawa busur dan anak panah miliknya sendiri.  Sebilah parang tergantung di pinggang.

Seekor babi hutan bersimbah darah, tergeletak di tanah.  Peluru yang dilepas Martinez jitu kena di kepala babi.  Martinez  berdiri di samping hasil buruannya.  Senapan tergantung di punggung.  Dia tidak sempat angkat senapan manakala dua lelaki Alifuru lebih dulu mengarahkan senjata kepada  dirinya.  Mata tombak sudah menuju jantung sedangkan anak panah tepat mengarah  ke depan matanya. 

Jantung Martinez seakan mau berhenti.  Cerita para pelaut tentang penduduk asli yang sulit diajak kompromi, langsung bikin gugup.  Beberapa rekan Portugis yang ada di sekitar hutan itu, tidak tahu situasi yang sedang dia hadapi.

Saat-saat kematian sudah di depan mata.  Martinez menatap mata panah, mata tombak, lalu dua pasang mata lelaki Alifuru.  Mereka lebih menakutkan daripada malaikat maut.  Martinez kaget sebab di belakang dua pria Alifuru,  seorang remaja Alifuru juga siap membidik anak panah ke arah matanya.

Berteriak meminta tolong kawan-kawan, tidak ada guna.  Mencabut senapan, tidak cukup waktu.  Negosiasi, tidak ada bahasa yang dipahami.  Menyesallah dia,  mengingat sewaktu di Malaca dan Ternate, sudah ada seorang sahabat pelaut berpesan agar mempelajari Bahasa Uliase, tetapi dia abaikan.

Remaja Alifuru terus saja menatap tajam pada Martinez. Dia maju dua langkah agar  berdiri sejajar di tengah dua pamannya.  Martinez berpikir, mungkin kedua pria dewasa sedang melatih sang remaja untuk menjadi pembunuh.  Eksekusi dipercayakan kepada yang paling muda.  Mungkin.

Remaja itu  nampak gagah dengan rambut panjang keriting, kulit hitam, badan setengah telanjang. Ada manik-manik tergantung di dada, melingkar di leher.  Taring babi tergantung persis di tengah. Martinez tersenyum saat bertatap mata dengan Alifuru muda. 

“Oh, Bunda Maria! Doakanlah aku, sekarang dan waktu aku mati, amin,” jerit Martinez dalam hati.

Sekali lagi dia membagi senyum kepada Alifuru muda.  Ajaib, remaja itu membalas senyum.  Martinez memberi satu isyarat kepada Alifuru itu, dengan menunjuk babi hutan di dekat kakinya.

Alifuru muda menurunkan anak panah, dan menyimpan ke dalam kantong panah di punggungnya.  Dia mencabut parang pendek di pinggang lalu dengan lincah, leher babi tersebut diiris sampai putus.   Bagian kepala babi diambil lalu diletakkan di depan kaki tempat kedua paman Alifuru berdiri. 

Alifuru muda maju ke hadapan Martinez.  Ia meletakkan lima jarinya ke dada Martinez.   Dia tetap melekatkan tangan di situ beberapa detik.  Dua pria Alifuru menurunkan tombak dan anak panah, lalu duduk bersila di tanah.   Martinez juga ikut duduk bersila.  Alifuru muda duduk di samping.  Mereka hanya saling tatap mata.  Tidak ada kata-kata, tetapi sudah saling bertukar senyum. 

Martinez mengambil satu linting tembakau dari dalam kaleng.  Diapun menyulut dengan korek api.  Kaleng dan korek api itu diserahkan kepada kedua Alifuru.  Tiga orang itu merokok. Asapnya wangi tembakau Deli. Martinez merasa lega.  Jiwanya yang tadi sudah bagaikan melayang-layang di atas ombak Nusaniwe dan Tanjung Alang, kini kembali ke tubuhnya.

Dia menarik nafas, membunyikan beberapa desah sekadar memastikan bahwa dia sedang berada di dunia konkrit, nun jauh dari kampung halaman di Portugal.  Wajahnya yang pucat dan tegang, kini terasa memerah tetapi rileks.
 
Senyum Martinez terus merekah melihat asap mengepul.  Matanya tak lepas dari Alufuru-Alifuru.   Alifuru muda tersenyum sambil bangkit berdiri lalu berlari pergi.  Dia menghilang di balik rumpun bambu.  Tidak lama,  dia kembali membawa bambu sepanjang lima ruas, dan empat belah tempurung kelapa.  Tempurung dibagikan seorang satu.  Bambu dimiringkan, lalu semua tempurung penuh terisi. 

“Sageru!” Teriak Alifuru muda.

``Saguero,`` Ucap Martinez.

Setelah masing-masing menikmati tembakau dua linting dan sageru tiga tempurung, senyum dan tawa  sudah terbit.

“Martinez da Alfonzo!” Ucap Martinez dengan mengarahkan telunjuk ke dadanya sendiri.

“Martafonso…. Martafons...” Kedua Alifuru mencoba mengulang nama itu, tetapi tidak sempurna.

“Martinez da Alfonzo!”  Ulang Martinez.

“Mar ta Al fon.  Marta Alfons.  Martafons!” Alifuru muda mengeja.

“Serua!”  Ujar Alifuru muda, sambil menunjuk diri sendiri.

“Serao, Seroa, Serua!” Giliran Martinez mencoba mengeja-eja.

“Seroa, Serua da Alfonzo,” ujar Martinez.

Babi, tembakau, sageru, perjumpaan, persentuhan.  Perang dan damai bisa terjadi kapan saja di mana saja, tergantung siapa pemimpin dan ke arah mana dia memimpin.  Martinez merasa betapa senyum dan tatap mata, sanggup menahan senjata.  Martinez percaya, senyum adalah bahasa semua bangsa di muka Bumi. 

“Terima kasih, Serua da Alfonzo!” Martinez memeluk laki-laki muda itu. 
 
Orang-orang Alifuru turun ke pantai.  Mereka menyaksikan Serua naik ke atas kapal. Kapal angkat sauh lalu pergi.  Seorang pria Hukunalo bernama Tita menjadi penerjemah.  Dia menjelaskan, Serua sekarang sudah punya bapak angkat, yang akan sayang pada Serua sebagai anak kandung.  Serua pergi bersama Kapal Tartaruga tetapi akan kembali lagi

Berlayar di atas kapal adalah pengalaman pertama bagi Serua. Setiap hari adalah baru, dan semakin hari semakin menyenangkan.   Semula dia  hanya mendapat tugas menyiapkan makanan untuk ayah angkat tetapi para awak kemudian meminta Serua memasak untuk seluruh awak kapal.

Bulan-bulan baik berlalu di laut dan pulau-pulau.  Semuanya begitu intim, indah, dan manis.  Justru semua keindahan itu, harus  berakhir, kini.

Orang-orang Negeri Hukunalo berdiri di bibir pantai dengan tatap mata lurus dan layu.  Ada satu dua orang ikut membantu evakuasi jenazah Martinez da Alfonso dari atas kapal ke darat. 

Serua berjalan di belakang iring-iringan jenazah.  Orang-orang mengalihkan pandangan kepada Alifuru muda. Dialah satu-satunya si hitam keriting yang turun dari atas kapal  dengan raut paling muram durja.

Melangkah lunglai dari bibir pantai sampai ke lokasi pemakaman yang hanya sejauh satu lemparan tombak, sungguh berat.  Rasanya bagai menempuh perjalanan berbulan-bulan di laut.  Bedanya, di laut yang asin, selalu ada senyum manis.  Kini di Tanah Ambon yang manis, bercucurlah air mata yang lebih asin dari garam.

Ibadah pemakaman dipimpin seorang tentara Portugal.  Orang-orang menyanyikan lagu-lagu yang baru pernah didengar Serua.  Keranda, bunga, salib, adalah sebuah pemandangan baru tetapi Serua tidak fokus ke ritual itu.  Justru segala kisah dan kenangan tentang Martinez mengalir begitu saja. 

“Kita namai tanjung ini sebagai Tanjung Martinez da Alfonso,” bisik awak Kapal Tartaruga  Rodriges Sousa  kepada Serua, seusai karangan bunga terakhir diletakkan di atas makam. 

Serua menatap lelaki Portugis bermata biru itu dengan penuh haru.  Dia hanya mengangguk.   Dalam hatinya, dia mendukung usulan itu.  Biarlah kelak, orang-orang yang datang ke Ambon akan mengenang sebuah nama yang begitu berarti bagi dirinya.  Tanjung Martinez da Alfonso.

“Ya, Tanjung Martinez da Alfonso.`` Serua mengangguk.

``Hari ini adalah duka nestapa tetapi kelak menjadi manis  dalam sejarah dan kenang-kenangan,” ujar Sousa sambil menepuk bahu Serua berkali-kali

Di ujung Tanjung Martinez da Alfonzo,  Serua berdiri memandang air laut yang mengalir.  Ada pusaran-pusaran arus di situ.  Bayang-bayang pohon di dataran Leitimur  terlihat bergoyang, berputar-putar, lalu hancur dalam pusaran. 

Serua mengeringkan air mata dengan ujung telunjuk.  Sebuah capeo milik Martinez bertengger menutup kepalanya.  Di pinggangnya, tergantung tas lopa-lopa.  Jemarinya meraba dada.  Rosario pemberian ayah Martinez masih tergantung dengan medali Bunda Maria dan Salib Yesus.

“Beta sayang beta punya Pai!” Gumam Serua. 

Air mata dan senyum bercampur jadi satu tatkala terkenang detik-detik pertama dia arahkan anak panah ke mata Martinez di Hutan Hunuth. 

Senja turun di Tanjung Martinez da Alfonzo. Matahari tenggelam dalam pusaran air teluk.  Serua melihat pusaran air mengoyak cahaya matahari, lalu luluh. 

Ambon, 3 Mei 2019

Kamis, 02 Mei 2019

BPJS Kesehatan Stop Kerjasama Dengan Tiga RS Di Maluku

Buletinnusa
Ambon, Malukupost.com - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan secara otomatis Stop (memutuskan) kerja sama dengan tiga (3) Rumah Sakit (RS) di Provinsi Maluku yang sampai dengan saat ini belum memperbaharui akreditasnya. Tiga rumah sakit tersebut yakni, RSUD dr. M. Haulussy Ambon, RSUD dr. H. Ishak Umarella Maluku Tengah, dan RS Hati Kudus Langgur. Sehingga, masyarakat yang menggunakan kartu JKN-KIS dari BPJS Kesehatan harus berobat ke Rumah Sakit lainnya yang sudah menjadi mitra BPJS Kesehatan.
Ambon, Malukupost.com - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan secara otomatis Stop (memutuskan) kerja sama dengan tiga (3) Rumah Sakit (RS) di Provinsi Maluku yang sampai dengan saat ini belum memperbaharui akreditasinya.

Tiga rumah sakit tersebut yakni, RSUD dr. M. Haulussy Ambon, RSUD dr. H. Ishak Umarella Maluku Tengah, dan RS Hati Kudus Langgur. Sehingga, masyarakat yang menggunakan kartu JKN-KIS dari BPJS Kesehatan harus berobat ke Rumah Sakit lainnya yang sudah menjadi mitra BPJS Kesehatan.

Kabid SDM, Umum dan Komunikasi Publik BPJS Kesehatan Cabang Ambon, Elsa Tutuarima mengatakan, hal itu berlaku pada masyarakat melakukan pengobatan di RS per tanggal 3 Mei. Karena pemutusan kerjasama tersebut untuk awal bulan Mei dan sedangkan pasien yang sudah masuk ke RS per 30 April kemarin tetap terlayani.

"Jadi itu untuk 30 April tetap masih terlayani kecuali yang masuk awal bulan Mei, jadi mereka dapat merujuk ke RS yang bekerjsama dengan BPJS Kesehatan," ujarnya di Ambon, Kamis (2/5).

Menurut Tutuarima, berdasarkan surat Depdirbid JPKR Nomor 9829/III.2/0818 tahun 2018 tentang pemenuhan sertifikat akreditasi sebagai persyaratan wajib kerjasama FKRTL, RS yang belum memperbarui akreditasinya secara otomatis sudah tidak menjadi mitra dengan BPJS Kesehatan.

"Akreditasi merupakan bentuk perlindungan pemerintah dalam memenuhi hak setiap warga negara agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan bermutu oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Akreditasi ini tidak hanya melindungi masyarakat, juga melindungi tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit itu sendiri," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penjaminan Kesehatan Rujukan (PMR) BPJS Kesehatan, Andi Muhammad Dahrul Muluk menyatakan, akreditasi sebagai persyaratan bagi rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan seharusnya diberlakukan sejak awal tahun 2014 seiring dengan pelaksanaan Program JKN-KIS. Namun memperhatikan kesiapan rumah sakit, ketentuan tersebut kemudian diperpanjang hingga 1 Januari 2019 sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 99 Tahun 2015 tentang perubahan PMK 71 Tahun 2013 Pasal 41 ayat (3).

"Kita sudah berkali-kali mengingatkan rumah sakit untuk mengurus akreditasi. Awal tahun lalu, pemerintah sudah memberi kesempatan kepada rumah sakit yang belum melaksanakan akreditasi untuk melakukan pembenahan dan perbaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” tandasnya.

Andi katakan, Selain itu pemerintah juga telah memberikan surat rekomendasi kepada sejumlah rumah sakit mitra BPJS Kesehatan yang belum terakreditasi agar paling lambat 30 Juni 2019 nanti harus sudah terakreditasi. Kemudian pada 11 Februari 2019, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes juga sudah mengirimkan pemberitahuan bagi rumah sakit agar segera terakreditasi.

“Namun, untuk masalah ini, kami terus melakukan koordinasi dengan pusat untuk masalah kerjasama tersebut. Jadi kami menunggu surat dari pusat untuk masuk entah sebentar atau esok untuk keterangan dari menteri kesehatan apakah RS yang habis masa akreditasinya dapat melanjutkan kerjasama lagi dengan BPJSK atau tidak," bebernya.

Dijelaskan Andi, hingga akhir April 2019 sendiri, terdapat 2.428 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, terdiri atas 2.202 rumah sakit dan 226 klinik utama. Sedangkan dari 720 rumah sakit mitra BPJS Kesehatan pada Desember 2018 lalu belum terakreditasi, saat ini jumlahnya menurun menjadi 271 rumah sakit. Ia pun mengapresiasi langkah manajemen rumah sakit yang telah menempatkan akreditasi sebagai salah satu prioritas utama mereka.

“Di sisi lain, putusnya kerja sama rumah sakit dengan BPJS Kesehatan bukan hanya karena faktor akreditasi semata. Ada juga rumah sakit yang diputus kerja samanya karena tidak lolos kredensialing, sudah tidak beroperasi, atau Surat Izin Operasionalnya sudah habis masa berlakunya,” jelasnya.

Andi menambahkan, dalam proses itu juga mempertimbangkan pendapat Dinas Kesehatan dan/atau Asosiasi Fasilitas Kesehatan setempat dan memastikan bahwa pemutusan kontrak tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat dengan melalui pemetaan analisis kebutuhan fasilitas kesehatan di suatu daerah.

“Kriteria teknis yang menjadi pertimbangan BPJS Kesehatan untuk menyeleksi fasilitas kesehatan yang ingin bergabung antara lain sumber daya manusia (tenaga medis yang kompeten), kelengkapan sarana dan prasarana, lingkup pelayanan, dan komitmen pelayanan,” pungkasnya. (MP-8)

Bupati Malra Ajak Insan Pendidikan Fokus Ke Dunianya

Buletinnusa
Langgur, Malukupost.com - Bupati Maluku Tenggara (Malra), M Thaher Hanubun mengajak insan pendidikan di kabupaten tersebut untuk fokus ke dunianya (dunia pendidikan), dan tidak perlu ikut campur di bidang lain. Ajakan ini disampaikan Bupati usai pelaksanaan upacara dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2019 dimana dirinya bertindak sebagai pembina upacara, yang dipusatkan di lapangan Maren Langgur Malra, Kamis (2/5).
Langgur, Malukupost.com - Bupati Maluku Tenggara (Malra), M Thaher Hanubun mengajak insan pendidikan di kabupaten tersebut untuk fokus  ke dunianya (dunia pendidikan), dan tidak perlu ikut campur di bidang lain.

Ajakan ini disampaikan Bupati usai pelaksanaan upacara dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2019 dimana dirinya bertindak sebagai pembina upacara, yang dipusatkan di lapangan Maren Langgur Malra, Kamis (2/5).

“Seperti tentara mengenal kata back to barack (kembali ke barak), maka insan pendidikan baik dinas pendidikan hingga stafnya, dan guru dan semua perangkat lainnya harus kembali ke dunianya, dunia pendidikan. Jangan terlalu ikut campur ke bidang yang lain, yang akhirnya mengganggu prestasi belajar para siswa, dan pelayanan kepada para siswa di daerah ini," ungkap Thaher.

Ia menegaskan, selaku Bupati Maluku Tenggara dirinya menyampaikan keprihatinan kepada dunia pendidikan di Maluku karena sampai saat ini tidak tahu pasti di antara  34 provinsi di Indonesia, berada pada peringkat ke berapa.

"Di seluruh Maluku dengan 11 kabupaten, kita juga tidak tahu Malra ada di posisi ke berapa saat ini dalam hal pendidikan," katanya.

Menurut Hanubun, peringatan Hardiknas hari ini dapat mengubah banyak hal. Pemda Malra, akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kekurangan tenaga guru, termasuk memenuhi persyaratan guru harus berijazah S1.

"Terkait sarana prasarana, akan kita sampaikan ke pusat bahwa kita memang masih kurang terutama bidang pendidikan, juga program IT di sekolah yang menghambat ujian. Ada sejumlah siswa harus datang dari Kei Besar ke Kei Kecil, dan itu mengeluarkan biaya cukup besar dan membebani orang tua," katanya.

Thaher menyatakan pemerintah daerah akan berupaya maksimal agar tahun 2020 nantinya semua yang diperlukan dunia pendidikan daerah ini dapat terjawab, olehnya itu semua insan pendidikan agar kembali merajut kebersamaan untuk peningkatan mutu pendidikan di daerah ini, karena hanya pendidikan yang bisa merubah kehidupan.

"Saya juga berharap, selain kinerja ASN termasuk guru, media sebagai lembaga independen dapat memberikan informasi akurat dan kuat terhadap kinerja ASN termasuk guru kepada kami, maka saya pastikan ada sanksi terutama sanksi administrasi," tambahnya. (MP-15)

Rabu, 01 Mei 2019

Peringati 1 Mei, Benhur Tommy Mano: Tidak Boleh Ada Negara dalam Negara

Buletinnusa
Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano (kiri) bersama Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI YP Sembiring dan Waka Polda Papua Brigjen Pol Yohanis Marzuki disambut di Taman Imbi Jayapura untuk upacara 1 Mei peringatan kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.
"Tidak boleh ada negara dalam negara dan jangan lagi ada bendera selain Merah Putih," tegas Benhur Tommy Mano peringati 1 Mei kemarin. Sementara, dalam kekuasaan NKRI penduduk asli Port Numbay sudah minoritas (terancam musnah).

Data Catatan Sipil 2015, orang asli Port Numbay yang ada di 14 Kampung hanya tersisa 10.723 (4%) dari total 491.000 (96%) penduduk di kota Jayapura. Sementara Balai Bahasa Provinsi Papua menemukan Bahasa asli Port Numbay sedang diambang kepunahan. Belum terhitung berapa tanah adat yang tersisah.

Baca ini: Orang asli Jayapura Tinggal 4%, Sisanya 96% adalah non-Asli Jayapura

Ini realitas dalam NKRI. Jadi kalau para pemimpin tanah Bau O Bwuai, Hollandia, atau Numbay masih bela dan tahan NKRI, maka mereka harus menjamin 20 atau 30 tahun mendatang orang asli Bau O Bwuai masih ada dan berkuasa diatas tanahnya sendiri.

Kondisi yang sama juga sedang terjadi di berbagai daerah di tanah Papua. Akankah orang Papua, tanah dan identitasnya masih akan eksis dalam bingkai NKRI?


Copyright ©Victor Yeimo (fb) "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: tabloid.wani@gmail.com

Di Kota Jayapura, Ribuan Orang Peringati Kembalinya Irian Barat ke NKRI

Buletinnusa
Di Kota Jayapura, Ribuan Orang Peringati Kembalinya Irian Barat ke NKRI
Ribuan peserta jalan santai di Kota Jayapura saat memperingati momen kembalinya Irian Barat ke pangkuan NKRI, Rabu (1/5/2019).
Jayapura -- Ribuan orang di Kota Jayapura, Rabu (1/5/2019) pagi ini, berjalan kaki dalam rangka memperingati kembalinya Irian Barat (Papua, red) ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kodim 1701/Jayapura bersama Pemerintah setempat menggerakan rmassa untuk berjalan kaki dari GOR Cendrawasih menuju ke taman Imbi

Wali Kota DR. Benhur Tomi Mano, MM secara resmi melepas peserta jalan santai.

Danrem 172/PWY Kol. Inf Jonathan Binsar Sianifar, Dandim 1701/Jayapura Letkol Inf. Yohanes Parinussa, Ketua Gercin Hendrik Yance Udam, dan Ketua LMRI Imam Syafii turut serta dalam jalan santai tersebut.

Tak ketinggalan, ribuan siswa-siswi SMU dari Kota dan Kabupaten Jayapura, Keerom serta berbagai paguyuban.

Wali Kota sesaat sebelum melepas peserta jalan santai menyatakan bahwa sejarah mencatat tanggal 1 Mei adalah hari kembalinya Irian Barat ke NKRI.

"Untuk itu, tidak ada lagi bendera di atas bendera, tidak ada lagi negara dalam negara. Kita punya negara satu yaitu negara Indonesia," tegasnya.

Pantauan media ini, setelah mendengar ucapan tersebut ribuan peserta langsung memberikan aplaus atas pernyataan Wali Kota.

"Hal ini harus terpatri di dalam diri kita sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di Kota Jayapura," sambungnya.

Dan ini akan rutin menjadi peringatan setiap tahunnya agar nilainilai luhur momen bersejarah ini tetap terjaga.

Baca sejarah ini: Perayaan Kemerdekaan Indonesia di Papua adalah Pembohongan Publik

Pada kesempatan itu, Wali Kota juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada siswa-siswi dari Kota dan Kabupaten Jayapura serta Keerom yang turut terlibat dan seluruh organisasi kemasyarakatan yang hadir pada saat ini. (Har)


Copyright ©Dharapospapua "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: tabloid.wani@gmail.com

Ambassador ULMWP: Masalah West Papua 'dibungkam' Ketika Diangkat dalam Forum PBB

Buletinnusa
Ambassador ULMWP: Masalah West Papua 'dibungkam' Ketika Diangkat dalam Forum PBB
Pembicara West Papua, John Anari ... dibungkam di forum Majelis Umum yang membahas masalah penentuan nasib sendiri. Gambar: tangkapan layar UNwebcast / PMC
New York -- Pembicara, John Anari, duta besar untuk United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menyatakan bahwa, West Papua berada di bawah pendudukan yang ditunjuk PBB dan bahwa PBB memiliki kewajiban hukum berdasarkan pasal 85 bagian 2 dari piagamnya untuk menempatkan masalah ini. Pendudukan PBB yang disahkan pada tahun 1962 oleh resolusi Majelis Umum 1752 dalam agenda Dewan Perwalian PBB.

Lihat juga: Foto: Ambassador ULMWP untuk PBB

Namun di sela-sela penyampaiannya, moderator menyela Anari dan kemudian ketika dia [John Anari] mencoba untuk [melanjurkan] mengangkat masalah lagi, dia [moderator] memotongnya dan melanjutkan ke pembicara berikutnya.

Ini bukan pertama kalinya PBB menyensor informasi dan permintaan tentang West Papua.

Permintaan yang sama dinyatakan dengan jelas di Forum Permanen tentang Masalah Masyarakat Adat (PFII) 2016, namun forum tidak menyebutkan permintaan dalam laporannya ke Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, yang memiliki kekuatan untuk menempatkan masalah dalam agenda agenda PBB.

Tahun ini, selain menyampaikan lagi permintaan West Papua kepada PFII, Anari memanfaatkan undangan dari Presiden Majelis Umum PBB untuk menghadiri sebuah forum mengenai penentuan nasib sendiri bagi penduduk asli ketika moderator forum berusaha membungkamnya.
Anari melanjutkan, dengan menegaskan permintaannya agar PBB mematuhi kewajiban piagamnya dan mengakui tanggung jawabnya atas konsekuensi dari otorisasi Majelis Umum pendudukan militer PBB di Papua.

Mungkin ada peluang tambahan minggu ini bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memenuhi piagam dan janji untuk memajukan hak asasi manusia, tetapi jika minggu dan tahun-tahun terakhir ada indikasi prospeknya tidak baik.

Andrew Johnson adalah veteran 20 tahun di the Australia West Papua Association, yang mengkhususkan diri dalam penelitian dan analisis sejarah.


Posted by: Admin
Copyright ©Asia Pacific Report "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: tabloid.wani@gmail.com